Semua artikel
Masalah Mental

Apa Itu Duck Syndrome? Fenomena Pura-pura Bahagia di Kalangan Millenial

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Kamu mungkin pernah melihat orang-orang di sekitarmu yang tampak sukses, bahagia, dan menikmati hidupnya. Mereka selalu terlihat percaya diri, ceria, dan produktif. Namun, apakah kamu tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan di dalam hati? Apakah mereka benar-benar bahagia atau hanya pura-pura bahagia?

Ada istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena ini, yaitu “duck syndrome” atau sindrom bebek. Istilah ini berasal dari analogi bebek yang berenang di permukaan air. Bebek tampak tenang dan santai, tetapi kakinya bergerak cepat dan keras di bawah air untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Hal ini mirip dengan orang-orang yang mengalami duck syndrome. Mereka terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya mereka mengalami banyak tekanan, stres, dan masalah di dalam.

Apa Itu Duck Syndrome?

Duck syndrome adalah istilah yang mengacu pada perilaku yang terlihat baik-baik saja, tenang, tampak bahagia meskipun sebenarnya seseorang memiliki banyak masalah, beban, dan tekanan. Istilah ini pertama kali digunakan di Universitas Stanford dan tampaknya menjadi masalah di kalangan mahasiswa.

Nama Duck Syndrome berasal dari analogi bebek yang berenang. Saat bebek berenang, kita hanya bisa melihat bagaimana tubuh bagian atas yang bergerak perlahan dan tenang. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa mereka memiliki kaki yang bergerak tidak teratur di dalam air agar posisinya di atas air tetap stabil.

Sindrom ini umum terjadi pada remaja yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah, atau pada orang dewasa muda yang baru mulai memasuki dunia kerja.

Baca juga: Refleksi Diri Dalam Menghadapi Duck Syndrome

Sejarah Munculnya Duck Syndrome

Dilansir dari UNAIR News, Duck syndrome pertama kali dikemukakan di Stanford University, salah satu universitas terkenal di dunia karena mayoritas mahasiswanya merupakan mahasiswa-mahasiswa pilihan. Mahasiswa-mahasiswa ini memiliki tuntutan akademik yang tinggi, ekspektasi yang besar dari keluarga dan teman-teman, serta perfeksionisme yang tinggi. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka mampu meraih kesuksesan dan kebahagiaan tanpa kesulitan. Namun, di balik itu semua, mereka mungkin merasa cemas, tertekan, kesepian, dan tidak puas dengan diri sendiri.

Duck syndrome tidak hanya dialami oleh mahasiswa-mahasiswa di Stanford University. Fenomena ini juga bisa terjadi pada siapa saja yang hidup di era modern ini, terutama kalangan millenial. Millenial adalah generasi yang lahir antara tahun 1981-1996. Mereka tumbuh di era digital dan media sosial yang memberikan banyak informasi dan inspirasi tentang kehidupan orang lain. Mereka juga memiliki banyak pilihan dan peluang untuk mengembangkan diri dan karir mereka.

Namun, hal-hal tersebut juga bisa menjadi sumber tekanan dan stres bagi millenial. Mereka mungkin merasa harus bersaing dengan orang lain. Persaingan ini untuk mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari orang lain.  Mungkin mereka merasa harus memenuhi standar dan harapan orang lain ataupun diri sendiri. Sikap selalu ingin tampil sempurna menjadi bumerang untuk mereka sendiri.

Semua hal tersebut bisa membuat millenial mengalami duck syndrome. Mereka berusaha keras untuk menyembunyikan perasaan mereka. Terutama perasaan negatif mereka. Jika terus-menerus menutupinya dengan sikap positif. Maka yang terjadi hanyalah kesengajaan diri.

Hal ini karena, mereka tidak mau meminta bantuan orang lain. Mereka takut menunjukkan kelemahannya kepada orang lain. Mereka tidak mau mengakui bahwa mereka juga manusia biasa yang bisa merasakan kesedihan, kekecewaan, kegagalan, dan ketakutan.

Mengapa Duck Syndrome Berbahaya?

Duck syndrome bisa menjadi berbahaya jika dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan yang tepat. Dilansir dari Alodokter, duck syndrome bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi dan gangguan cemas. Depresi adalah kondisi di mana seseorang merasa sedih, putus asa, tidak berdaya, tidak berharga, dan kehilangan minat atau semangat hidup. Gangguan cemas adalah kondisi di mana seseorang merasa khawatir berlebihan, gugup, takut, panik, atau gelisah tanpa alasan yang jelas.

Depression dan gangguan cemas bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental seseorang. Oleh karena itu, duck syndrome harus segera diatasi dengan cara yang tepat. Jika kamu mengalami duck syndrome, cobalah untuk mencari pertolongan dan lakukan beberapa tips berikut untuk menjaga kesehatan mentalmu.

Lakukan Konseling dengan Para Ahli Jika Sudah Menganggu Dirimu

Dalam menghadapi persoalan kejiwaan, kamu perlu konseling dengan para profesional seperti psikolog atau psikiater. Mereka bisa membantu kamu untuk mengenali penyebab dan gejala duck syndrome yang kamu alami, serta memberikan saran dan solusi yang sesuai dengan kondisimu. Dilansir dari Ruang Guru, mereka juga bisa memberikan terapi atau obat-obatan jika diperlukan.

Kamu perlu menyadari bahwa kamu tidak bisa melakukan segalanya sendirian. Karena itu, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mencapai standar atau harapan orang lain. Harapan yang terlalu tinggi dari diri sendiri atau orang lain. Jika kamu mengenal kapasitas dirimu dalam melakukan segala sesuatu. Maka kamu tidak akan merasa terbebani. Jadi, carilah bekerja sesuai dengan kemampuanmu. Selain itu, belajarlah untuk menerima kekurangan dan kegagalanmu. Jadikan sebagai bagian dari proses belajar dan berkembang.

Baca juga:

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Apa Itu Duck Syndrome? Fenomena Pura-pura Bahagia di Kalangan Millenial — DeepTalk