Deeptalk.co.id – Mengalami kekerasan seksual tentu merupakan kondisi yang tidak menyenangkan. Selain harus menanggung rasa sakit secara fisik, mereka juga akan mengalami trauma yang cukup besar sehingga mampu mempengaruhi kondisi mentalnya.
Sayangnya, diantara banyaknya tekanan yang dialami oleh korban kekerasan seksual, masih ada saja yang menyalahkan mereka akibat kemalangan yang didapatkan. Misalnya, orang-orang beranggapan bahwa korban terlalu menggoda dengan pakaian yang mereka gunakan, korban dianggap tidak bisa menjaga diri, hingga ada yang menyalahkan korban karena tidak melawan pada saat mengalami kekerasan seksual.
Namun tahukah kamu bahwa pada kenyataannya terdapat penjelasan mengenai mengapa korban kekerasan seksual terkadang tidak bisa melakukan perlawanan. Hal ini diduga karena korban secara tiba-tiba mengalami kelumpuhan saat kekerasan tersebut berlangsung. Kondisi semacam ini dikenal dengan istilah tonic immobility.
Lantas seperti apa tonic immobility itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai tonic immobility. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu membutuhkan informasi lebih mengenai tonic immobility, kamu bisa berkonsultasi dengan orang-orang yang ahli dibidangnya.
Berikut pembahasan mengenai tonic immobility.
Pengertian Tonic Immobility

Tonic immobility adalah kondisi dimana seseorang secara tiba-tiba tidak bisa bergerak, berbicara, atau melakukan perlawanan saat sedang mengalami situasi berbahaya atau traumatis. Kondisi ini bisa dikatakan sebagai bentuk dari kelumpuhan sementara. Sebenarnya, tonic immobility merupakan perilaku naluriah yang dimiliki oleh hewan sebagai respon terhadap ancaman. Namun dalam beberapa kasus kondisi ini juga terjadi pada manusia.
Umumnya saat manusia mendapatkan ancaman, otak dan sistem saraf akan bereaksi dengan sangat cepat untuk melepaskan hormon kortisol dan adrenalin. Kedua hormon ini akan memicu perubahan fisik agar tubuh siap menghadapi ancaman tersebut. Sayangnya hal yang sama tidak terjadi pada orang-orang yang mengalami tonic immobility.
Arkansas Coalition Against Sexualt Assault (ACASA) kondisi tonic immobility terjadi akibat pelepasan hormon kortikosteroid. Hormon ini justru membuat seseorang mengalami penurunan energi dan tubuh terasa kaku. Maka dari itu korban biasanya tidak bisa melakukan apa-apa saat terjadi penyerangan.
Walaupun kondisi tonic immobility ini umum dialami oleh korban kekerasan seksual, namun kondisi ini juga bisa terjadi pada kasus-kasus kekerasan lainnya, dan kejadian traumatis. Selain itu, tidak semua korban kekerasan seksual juga mengalami kondisi tonic immobility ini.
Baca juga : Tips Agar Terhindar Dari Birthday Blues
Tahapan Tonic Immobility

Korban yang mengalami tonic immobility tidak langsung mengalami kelumpuhan saat berhadapan dengan situasi berbahaya. Pada dasarnya korban akan melalui beberapa tahap sebelum akhirnya mengalami kelumpuhan sementara. Berikut 5 tahapan dalam tonic immobility:
Arousal
Tahap pertama yang dialami korban dikenal dengan istilah arousal. Pada tahap ini korban sudah mulai mengenali bahwa dirinya sedang dalam bahaya atau ancaman yang besar. Di tahap ini juga korban mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bahaya yang mengintai mereka.
Flight or fight
Tahap kedua yang dialami korban adalah flight or fight. Pada tahap ini korban akan memutuskan apakah mereka akan melakukan perlawanan, atau justru melarikan diri.
Freeze
Tahap ketiga adalah freeze. Seperti namanya, di tahap ini korban akan mengalami pembekuan dalam beberapa saat sebelum akhirnya mengambil tindakan. Pada tahap ini korban akan mempertimbangkan berbagai bahaya yang akan dialami yang berhubungan dengan langkahnya.
Tonic immobility and collapsed immobility (pingsan)
Tahap keempat adalah tonic immobility. Tahap ini terjadi saat korban merasa respon ancaman tidak dapat dihindari. Pada tahap ini juga korban bisa mengalami collapsed immobility atau pingsan akibat rasa takut yang terlalu besar.
Quiescent immobility (diam)
Tahap terakhir yang dialami oleh korban adalah quiescent immobility. Tahap ini merupakan tahap istirahat yang akan membantu korban mendapatkan penyembuhan. Bisa dikatakan ini adalah tahap pemulihan dari trauma.
Dampak Tonic Immobility

Walaupun dalam tahapan tonic immobility terdapat tahap pemulihan, namun bukan berarti kondisi ini bisa dibiarkan begitu saja dan korban tidak mendapatkan pertolongan medis. Perlu diketahui bahwa tonic immobility bisa menimbulkan berbagai dampak kesehatan mental jika tidak ditangani dengan tepat.
Akibat tonic immobility, korban bisa mengalami trauma berkepanjangan yang bisa mengganggu kehidupan korban kedepannya. Kondisi ini bisa mengarah pada gangguan stress pasca trauma atau PTSD.
Korban umumnya akan menyalahkan diri sendiri akibat responnya yang tidak bisa menolong dirinya. Hal inilah yang dianggap penyebab korban akhirnya mengalami PTSD. Kondisi ini bahkan bisa semakin parah jika korban tidak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Terlebih lagi, seperti yang kita ketahui bahwa tidak sedikit orang yang menyalahkan korban akibat kekerasan seksual. Maka dari itu, penting bagi korban mendapatkan pertolongan medis, dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai tonic immobility. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Birthday Blues : Perasaan Sedih di Hari Ulang Tahun
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



