Deeptalk.co.id – Remaja adalah masa transisi yang sarat dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial, yang seringkali memunculkan beragam tekanan dan tantangan. Pada masa transisi ini, tahap remaja kerap mengalami perilaku yang melibatkan pengendalian emosi hingga kesulitannya sehingga menimbulkan perilaku agresif yang sering remaja alami. Perilaku agresif pada remaja ini memiliki dampak signifikan dalam perkembangan dan kesejahteraan generasi muda, serta kerap menjadi perbincangan penting dalam pengembangan mereka.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang perilaku agresif pada remaja, mendiskusikan bentuk perilakunya, penyebab, hingga dampaknya. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang masalah ini, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih efektif untuk membantu remaja menghadapi tekanan dan mengekspresikan emosi mereka secara sehat, membentuk masa remaja yang lebih positif dan konstruktif.
Mengenali Perilaku Agresif Pada Remaja

Adalah hal yang umum terjadi apabila remaja terkadang menjadi pemberontak, pemurung, dan bahkan marah. Ada beragam penyebab dan alasan mengapa remaja rentan memiliki perilaku yang agresif. Bahkan, diketahui bahwa remaja yang berjuang dengan depresi, kecemasan atau gangguan penggunaan narkoba mempunyai kemungkinan lebih tinggi untuk menunjukkan perilaku remaja agresif.
Perilaku agresif pada remaja biasanya dapat terwujud dalam berbagai cara, termasuk agresi verbal, kekerasan fisik hingga perilaku anti-sosial. Perilau remaja yang agresif ini dapat mencakup seperti berteriak, mengutuk, menggunakan bahasa yang kasar secara verbal seperti sarkasme dan hinaan, kekerasan fisik, penindasan baik secara langsung maupun di dunia maya, bergosip dan menyebarkan rumor, hingga merusak harta benda.
Agresi remaja juga terkadang dikategorikan menjadi dua jenis, yakni:
1) Agresi impulsif, atau juga dikenal sebagai agresi afektif atau agresi emosional. Biasanya tidak terkendali dan spontan. Contoh agresi impulsif pada remaja bisa berupa mendorong saudara kandungnya saat dia frustrasi atau membentak orang tuanya saat dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan jelas.
2) Agresi instrumental, yang juga dikenal sebagai agresi kognitif. Dalam kasus ini, seorang remaja mempunyai rencana, niat, atau tujuan untuk berperilaku agresif. Contoh agresi instrumental dapat berupa perilaku kejam perempuan yang diulang-ulang dalam kelompok teman (atau musuh).
Baca juga: Hubungan Antara Stres Sebagai Pemicu Emotional Eating
Bahaya Perilaku Agresif Pada Remaja

Ketika seorang remaja menunjukkan agresi terhadap teman sebaya, anggota keluarga, atau orang dewasa yang mempunyai otoritas, biasanya ada konsekuensi tertentu. Jika agresi terjadi di sekolah, mereka dapat ditahan, diskors, atau bahkan dikeluarkan. Agresi remaja terhadap teman sebaya dapat merusak persahabatan atau hubungan romantis. Jika seorang remaja bersikap agresif atau melakukan kekerasan di rumah, orang tua dan anggota keluarga yang terlibat harus mengambil keputusan tentang konsekuensi yang ingin mereka terapkan.
Terlepas dari apakah perilaku agresif remaja itu termasuk kekerasan atau tidak, orang tua harus menanggapi tindakan agresi remaja dengan serius. Sekalipun seorang remaja “hanya” membalas, orang tua perlu menetapkan konsekuensi dan membantu remaja mengetahui akar perilaku agresifnya. Agresi menyebabkan kerugian tidak hanya pada korban penyerangan atau agresi, namun juga pada remaja yang menunjukkan perilaku tersebut. Remaja mungkin menunjukkan perilaku agresif sebagai cara yang tidak sehat untuk mengatasi tekanan dan emosi yang sulit.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami lebih lanjut mengapa seorang remaja bertingkah laku hingga berperilaku agresif. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki orang tua tentang apa yang menyebabkan agresi pada remaja, semakin baik pula kesiapan mereka untuk mendukung anak-anak mereka. Selain itu, orang tua dapat membantu remaja agresifnya dengan menggunakan bahasa tubuh yang tenang dan mendengarkan secara aktif. Penilaian kesehatan mental dapat membantu menentukan apakah agresi pada remaja disebabkan oleh depresi, trauma, kecemasan, atau kondisi lain.
Penyebab Agresi Remaja

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa agresi pada remaja bisa menjadi gejala masalah kesehatan mental, terutama pada remaja laki-laki meskipun remaja perempuan juga sebenarnya bisa mengalaminya juga. Ini dikarenakan anak remaja laki-laki kerap disosialisasikan untuk “menjadi tangguh” dan tidak menunjukkan kerentanan.
Sehingga akibatnya mereka cenderung menghindari untuk menunjukkan atau membicarakan emosi seperti kesedihan atau ketakutan. Pada akhirnya, perasaan mereka pun terwujud dalam bentuk kemarahan atau agresif.
Selain itu, beberapa penyebab spesifik perilaku agresif pada remaja meliputi:
1) ADHD dan Ketidakmampuan Belajar
Jika seorang anak menderita ADHD, mereka cenderung bertindak impulsif dan agresif tanpa mempedulikan konsekuensi yang mungkin timbul. ADHD dan ketidakmampuan belajar dapat membuat remaja merasa frustrasi dan merasa buruk terhadap dirinya sendiri. Dan jika mereka tidak diberi alat untuk mengatasi emosi ini, mereka mungkin akan menyerang orang lain.
2) Neurodivergensi dan Trauma Otak
Autism Spectrum Disorder (ASD) dapat mencakup perilaku agresif. Perilaku serupa juga terlihat pada remaja yang mengalami cedera otak traumatis (TBI). Gegar otak dan kerusakan otak dapat menyebabkan remaja bertindak kasar dan agresif.
3) Gangguan Suasana Hati
Remaja yang memiliki gangguan mood seperti gangguan bipolar mungkin menunjukkan agresi selama episode manik atau hipomanik.
4) Trauma atau Pengalaman Masa Lalu
Anak-anak dengan riwayat pelecehan fisik atau seksual lebih cenderung menunjukkan agresi saat remaja atau dewasa. Trauma masa kanak-kanak juga berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental lainnya, seperti kecemasan dan depresi, yang dapat bermanifestasi sebagai agresi remaja.
5) Penyalahgunaan Zat Remaja
Fungsi otak remaja dipengaruhi oleh penggunaan awal obat-obatan dan alkohol. Akibatnya, penyalahgunaan zat dapat menyebabkan peningkatan agresi pada remaja.
Baca juga: Waspadai Tanda Perilaku Agresif Pada Pasangan yang Berbahaya
Sumber:
https://www.newportacademy.com/resources/restoring-families/aggression-in-teens/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



