Deeptalk.co.id – Pendidikan anak merupakan hal yang cukup penting bagi sebagian besar orang tua. Maka rasanya tidak mengherankan jika banyak orang tua yang merasa khawatir jika anak mengalami ketertinggalan di sekolahnya. Walau pada dasarnya setiap anak memang memiliki intelegensi yang berbeda-beda.
Anak memang akan mengalami peningkatan pengetahuan dengan memberikan berbagai stimulus yang mereka butuhkan. Namun jika anak tidak mampu merespon stimulus tersebut dengan baik, maka sudah sepantasnya orang tua memberikan perhatian khusus kepada anak. Bisa jadi anak mengalami gangguan belajar yang cukup serius.
Setiap orang tua harusnya paham apa saja gangguan belajar yang umumnya dialami oleh anak-anak. Dengan adanya pengetahuan tersebut, orang tua bisa lebih waspada, dan memberikan penanganan yang tepat jika memang anak menunjukan tanda-tanda gangguan belajar.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai klasifikasi gangguan belajar pada anak. Namun sebelum kami membahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu menemukan anak dengan beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera bawa anak untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu anak akan mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Berikut beberapa klasifikasi gangguan belajar pada anak:
Disleksia

Beberapa anak mengalami masalah dalam kemampuan membaca. Walaupun beberapa anak lainnya memang dengan mudah menerima stimulus dan bisa membaca kayaknya anak-anak kebanyakan. Namun hal tersebut tidak akan mudah bagi anak-anak penyandang disleksia.
Disleksia sendiri merupakan gangguan belajar, khususnya dalam kemampuan membaca. Artinya, anak-anak disleksia mengalami kesulitan belajar, dalam menulis, membaca, dan juga mengeja. Kondisi semacam ini akan cukup menyulitkan bagi anak. Pasalnya, kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar yang penting untuk anak kuasai.
Gejala dari disleksia sendiri mencakup kesulitan dalam melafalkan sesuatu, lambat berbicara, kesulitan mengingat film atau hal yang disukai, mengalami kesulitan dalam mengenal huruf dan warna, dan sulit membedakan huruf yang hampir mirip seperti p dan q.
Disgrafia

Klasifikasi kedua dari gangguan belajar adalah disgrafia. Gangguan belajar yang satu ini merupakan keterbatasan kemampuan belajar anak, khususnya dalam kemampuan menulis. Disgrafia pada dasarnya memiliki banyak kesamaan dengan disleksia. Bahkan dalam banyak kasus, penderita disleksia juga merupakan penderita disgrafia. Adapun hal yang membedakan antara disgrafia dan disleksia adalah kesulitan penyusunan kalimat, mengatur paragraf, menggunakan tata bahasa, hingga menentukan ejaan yang benar dalam bentuk tulisan.
Gejala dari disgrafia sendiri mencakup kesulitan dalam memegang pensil atau pulpen untuk menulis, menunjukan ketidaksukaan untuk menulis atau menggambar, memiliki tulisan yang tidak dapat dibaca, hingga mengalami kesulitan dalam menulis kalimat yang benar.
Baca juga: Mengenal Klasifikasi Gangguan Perkembangan Pervasif
Diskalkulia

Klasifikasi ketiga dari gangguan belajar adalah diskalkulia. Gangguan belajar yang satu ini merupakan keterbatasan kemampuan belajar anak, khususnya dalam kemampuan menghitung. Anak dengan diskalkulia bahkan seringkali melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal matematika dasar. Tidak hanya menghitung, anak dengan diskalkulia juga mengalami kesulitan dalam mengingat angka.
Gejala dari diskalkulia sendiri mencakup kesulitan dalam menghitung, pemahaman yang kurang dalam memahami simbol matematika, sulit untuk menghafal dan mengatur angka, kesulitan dalam menentukan waktu, hingga kesulitan dalam memperkirakan hal-hal yang berhubungan dengan angka seperti jarak atau berat benda.
Dispraksia

Klasifikasi keempat dari gangguan belajar adalah dispraksia. Gangguan belajar yang satu ini merupakan keterbatasan kemampuan belajar anak, khususnya dalam pergerakan motorinya. Baik itu motorik kasar, maupun motorik halus. Kondisi yang satu ini cukup mengganggu aktivitas sehari-hari anak, terutama dalam olahraga, atau hal-hal lain yang membutuhkan koordinasi gerak tubuh.
Gejala dari dispraksia sendiri mencakup kesulitan memegang alat makan, tidak bisa mengendarai sepeda, tidak menyukai permainan seperti menyusun puzzle, keterlambatan berbicara hingga usia 3 tahun, sering menabrak benda, sering terjatuh, kesulitan memegang alat tulis, dan lain sebagainya.
Itu dia beberapa klasifikasi gangguan belajar pada anak. Dari pemaparan diatas, perlu kita pahami bahwa tidak semua anak yang mengalami masalah dalam proses belajarnya adalah anak-anak yang tidak ingin belajar, atau bahkan diberikan predikat “bodoh”. Setiap anak bisa saja memahami setiap ajaran yang diberikan, selama pengajar dan orang tua paham bagaimana cara yang tepat untuk memberikan pelajaran tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa anak memang membutuhkan treatment khusus untuk membantunya memahami informasi yang mereka butuhkan. Jika orang tua dan tenaga pengajar mengalami keterbatasan untuk mengajar anak, maka jangan ragu untuk memberikan bimbingan khusus pada anak oleh orang-orang yang tersertifikasi khusus dalam hal gangguan belajar pada anak. Dengan begitu, anak bisa mengejar ketertinggalannya di sekolah, dan tentunya bisa setara dengan anak-anak lainnya.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Waspada Gejala Adjustment Disorder Pada Anak dan Ketahui Cara Penanganannya
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



