Deeptalk.co.id – Pada dasarnya, resiliensi mengacu pada adaptasi positif atau kemampuan untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kesehatan mental, meskipun ada kesulitannya. Definisnya pun kemudian berkembang sebagai pengetahuan ilmiah dan dipelajari oleh ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Termasuk psikologi, psikiatri, sosiologi, dan baru-baru ini disiplin biologi termasuk genetika, epigenetik, endokrinologi dan ilmu saraf.
Lalu, penelitian penelitian psikologis menunjukkan bahwa sumber daya dan keterampilan yang terkait dengan adaptasi yang lebih positif, yaitu resiliensi atau ketahanan yang lebih besar dapat dikembangkan dan dipraktikkan. Sejumlah faktor berkontribusi pada seberapa baik orang beradaptasi dengan kesulitan. Yang dominan di antaranya cara individu memandang dan terlibat dengan dunia ketersediaan dan kualitasnya, serta sumber daya sosial terkait strategi untuk penanggulangan khusus.
Apa Itu Resiliensi dan Mengapa Itu Penting?

Menurut American Psychological Association, resiliensi diartikan sebagai proses dan hasil dari keberhasilan beradaptasi dengan pengalaman sulit atau menantang. Terutama melalui fleksibilitas mental, emosional serta penyesuaian terhadap tuntutan baik secara eksternal maupun internal.
Setiap orang dapat bertahan dari tekanan yang paling menantang, dan bahkan beberapa dapat berhasil melewatinya. Namun, mungkin mereka tidak menyadari secara jelas bagaimana mereka bisa melewati tantangan yang mereka hadapi.
Ini berkaitan dengan ketahanan atau resiliensi secara batin, yang mana merupakan sumber daya penting dan menjadi rahasia sukses di dunia luar, serta menjadi dasar kesehatan mental yang baik. Adakalanya seseorang merasa terpuruk, lalu kemudian bisa bangkit kembali akibat resiliensi yang mereka miliki. Resiliensi ini menjadi kekuatan adaptasi setiap orang untuk dapat bertahan atau bahkan berhasil menghadapi tantangan.
Resiliensi atau ketahanan bisa bangkit kembali. Sama halnya pada ilmu fisika, ketika bahan yang lentur dapat kembali ke keadaan semula setelah dibengkokkan atau diregangkan. Pun demikian resiliensi dalam konteks manusia digambarkan sebagai kapasitas untuk tetap fleksibel dalam pikiran, perasaan dan perilaku manusia saat menghadapi gangguan atau tekanan dalam hidupnya. Sehingga manusia dapat keluar dari kesulitan dengan lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mampu.
Setiap manusia memiliki kemampuan resiliensi yang dapat membantunya dalam mempertahankan stabilitas psikologis ketika menghadapi stres akibat tekanan dalam hidup. Selain itu, resiliensi menjadi penting untuk dimiliki karena mampu untuk menjaga harga diri serta rasa mampu diri.
Resiliensi adalah perilaku positif yang membantu seseorang untuk mengurangi kemungkinan munculnya rantai reaksi yang negatif setelah peristiwa hidup yang menekannya. Inilah yang mendukung manusia meningkatkan kesempatan untuk lebih berkembang.
Baca juga: Mood Swing pada Anak: Bagaimana Orangtua Dapat Membantu Anak Mengelola Emosi
Faktor Penting Bagi Resiliensi

Meskipun ada banyak definisi tentang resiliensi, para psikolog biasanya setuju bahwa resiliensi adalah konsep yang berlipat ganda, yang terdiri dari kapasitas untuk menangani masa-masa sulit dan kemampuan manusia untuk merespons secara fleksibel. Beberapa peneliti melangkah lebih jauh, mengidentifikasi tiga faktor berikut sebagai hal yang penting untuk resiliensi.
(1) Pemulihan – Kembali ke normalitas atau tingkat fungsi pra-stres
(2) Perlawanan – Terbatas atau tidak ada tanda-tanda gangguan mengikuti stressor
(3) Konfigurasi ulang – Kembali ke homeostasis yang berbeda dan menemukan stabilitas baru sesuai dengan perubahan keadaan. Tidak seperti pemulihan atau penolakan, konfigurasi ulang adalah bagian penting dari proses transformasi yang dialami individu ketika kembali ke jalur semula sulit atau tidak terpikirkan.
Memang setiap manusia memiliki resiliensi yang tertanam pada dirinya. Namun, ada beberapa individu yang lebih ulet, seringkali melakukan lebih dari sekedar bangkit kembali melalui resiliensinya.
Mereka yang memiliki resiliensi tinggi pada saat peristiwa penting seperti kematian seseorang yang dicintai, atau diagnosis medis yang tidak terduga, akan terlihat tenang dan stabil. Bahkan orang yang paling tangguh pun tidak mungkin kembali ke jalur semula, atau setidaknya tetap tidak berubah.
Walaupun demikian, psikologi mengakui bahwa mereka yang terlihat tangguh dan tegar saat peristiwa penuh tekanan dalam hidupnya tidak selalu pulih dengan mudah. Mereka bahkan sering menemukan jalan baru. Juga ketika dihadapkan pada apa yang telah terjadi, pada saat-saat tergelap biasanya masih mengarah pada pertumbuhan.
Ini termasuk pada citra diri yang baru atau yang direvisi, juga hubungan yang diperkaya dan diperjelas. Selain itu, orang yang tangguh menjadi sadar akan kemampuan tak terduga saat mereka mengadapi setiap tantangan baru.
Prioritas pun ikut berubah, dimana mereka mungkin lebih fokus untuk dapat menghilangkan apa yang tidak penting dan mengklarifikasi serta memotivasi nilai, tujuan hidup dan prioritas yang bermakna lainnya. Tujuan yang diperbarui juga dapat memperkuat tekad mereka yang sudah tangguh.
Hal ini seiring dengan sebuah penelitian yang menemukan bahwa memiliki tujuan yang jelas dan bernilai, serta berkomitmen penuh pada misi, dapat secara nyata memperkuat ketahanan atau resiliensi seseorang.
Baca juga: Kleptomania: Mengambil Barang Tanpa Izin Secara Impulsif
Sumber:
Herrman, H., Stewart, D. E., Diaz-Granados, N., Berger, E. L., Jackson, B. E., & Yuen, T. J. (2011). What is Resilience? The Canadian Journal of Psychiatry, 56(5), 258–265. https://doi.org/10.1177/070674371105600504
Resilience. (2023). American . https://www.apa.org/topics/resilience
Sutton, J., PhD. (2023, April 6). What Is Resilience, and Why Is It Important to Bounce Back? PositivePsychology.com. https://positivepsychology.com/what-is-resilience/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

