Semua artikel
Kesehatan Mental Remaja

Ini Penyebabnya Remaja Lebih Rentan Mengalami Kecanduan Media Sosial

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Saat ini, remaja cenderung lebih rentan menghadapi kecanduan media sosial. Fenomena ini banyak dilihat di kehidupan sehari-hari. Di mana kita bisa melihat remaja seringkali menghabiskan banyak waktu di depan smartphone mereka untuk mengakses berbagai platform media sosial. Maraknya penggunaan media sosial oleh remaja menjadi perhatian bagi kita. Karena adanya efek negatif yang bisa timbul seperti dampak pada kesehatan mental dan fisik hingga gangguan dalam pergaulan. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai penyebab remaja lebih rentan mengalami kecanduan media sosial.

Contoh fenomena umum yang terjadi adalah ketika kita melihat sekumpulan remaja yang sedang berkumpul. Tetapi semua perhatian mereka teralihkan pada ponsel masing-masing. Mereka cenderung lebih terhubung melalui media sosial daripada berkomunikasi langsung dengan teman yang hadir bersama mereka. Alasan seperti mencari dukungan, mendapatkan perhatian, dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar menjadi beberapa pemicu kecanduan media sosial.

Suatu hal yang menjadi perbincangan adalah bagaimana seorang remaja lebih sering mengakses media sosial dibandingkan aktivitas lainnya. Terlepas dari manfaat positif yang ditawarkan oleh media sosial, terlalu sering mengaksesnya akan memberi dampak buruk. Oleh karena itu, melakukan kontrol dalam menggunakan media sosial menjadi penting agar remaja tidak mengalami kecanduan.

Penelitian Kecanduan Media Sosial pada Remaja

Penelitian Kecanduan Media Sosial pada Remaja. Merujuk pada hasil studi yang dilakukan oleh Rizki Aprilia, Aat Sriati, dan Sri Hendrawati mengenai level kecanduan media sosial remaja. Studi ini dipublikasikan pada tahun 2020.

Menurut penelitian tersebut, sekitar 51,4% remaja mengalami kecanduan media sosial pada level yang rendah. Ini berarti bahwa meski mereka sering menggunakan media sosial. Mereka masih memiliki kontrol terhadap penggunaannya dan kemungkinan bisa mengurangi penggunaan jika diperlukan.

Sementara itu, sekitar 48,6% remaja lainnya mendapati diri mereka mencapai level kecanduan yang tinggi. Ini berarti mereka mungkin menghabiskan sebagian besar waktu mereka di media sosial. Bisa jadi mengabaikan tugas-tugas dan aktivitas lain dalam hidup mereka. Kerap kali, mereka mendapati diri mereka sulit untuk mengurangi penggunaan atau berhenti.

Penemuan ini cukup mengkhawatirkan mengingat efek negatif yang bisa timbul dari kecanduan media sosial. Seperti gangguan tidur, gangguan kesehatan mental, penurunan prestasi akademik, dan permasalahan lainnya.

Baca juga: Pentingnya Mempelajari Self-Knowledge Untuk Kesejahteraan Diri

Alasan Mengapa Remaja Lebih Banyak Mengakses Media Sosial

Mengapa remaja lebih rentan mengalami kecanduan media sosial? Salah satu alasan adalah karena remaja memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi dan kebutuhan akan pengakuan dari lingkungan. Keingintahuan ini membuat remaja menghabiskan banyak waktu untuk mengakses media sosial. Hal ini demi mendapatkan informasi dan berinteraksi dengan mereka yang ada di dalam lingkaran pertemanan. Belum lagi fenomena penggunaan media sosial untuk eksplorasi dan ekspresi diri. Sehingga tak jarang kita melihat banyak remaja yang sangat senang ketika mendapatkan likes dan komentar dari kiriman yang dibagikan. Berikut ini adalah beberapa alasan yang menjelaskan mengapa remaja lebih rentan mengalami kecanduan media sosial:

1.     Rendahnya Harga Diri

Remaja dengan rasa percaya diri yang rendah mungkin merasa lebih mudah terhubung dengan orang lain melalui media sosial. Di mana mereka merasa nyaman berkat anonimitas yang ditawarkan.

Dirinya mungkin merasa kurang nyaman atau cemas saat berinteraksi langsung dengan orang lain. Karena merasa bahwa dirinya tidak sebanding atau sejenis dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Sebagai solusi, beberapa dari mereka ini mungkin menemukan bahwa media sosial menyediakan platform yang lebih nyaman untuk mereka berinteraksi. Di media sosial, anonimitas dan jarak antar pengguna dapat menurunkan rasa takut akan penolakan atau penghakiman dari orang lain. Sehingga, dirinya dapat lebih bebas menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa merasa terintimidasi.

Namun, hal ini bukan berarti kondisi ini bisa dianggap ringan. Jika tidak ditangani dengan tepat. Dirinya yang memiliki harga diri rendah ini berpotensi mengalami kecanduan media sosial. Kondisi ini merupakan situasi di mana dirinya mungkin terlalu bergantung pada media sosial untuk mendapatkan validasi dan penerimaan sosial. Yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik dirinya. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara bijaksana dan menyeimbangkan penggunaannya dengan interaksi sosial secara langsung yang sehat.

2.     Ingin Mendapatkan Perhatian

Di era media sosial ini, remaja terkadang menggunakan platform ini sebagai cara untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Hal ini dilakukan dengan memposting foto, status, atau konten lainnya dengan harapan mendapatkan respon seperti komentar, ‘like’, atau ‘share’ dari teman-temannya. Dalam beberapa kasus, respon ini dapat menjadi pengukur popularitas atau validasi sosial bagi si pemilik akun. Kegiatan ini seringkali digunakan untuk merasa dihargai atau diterima di komunitas mereka.

3.     Media Sosial Sebagai Wadah Ekspresi dan Eksplorasi Diri

Media sosial juga berfungsi sebagai arena bagi remaja untuk mengekspresikan diri dan mencoba berbagai identitas. Dengan kata lain, mereka bisa memanfaatkan media sosial untuk mempresentasikan diri mereka sebagaimana yang mereka inginkan. Sebagai contoh, seorang remaja bisa mengekspresikan minat dan hobinya, misalnya dalam seni, musik, fotografi, atau hal lainnya. Selain itu, mereka juga bisa mengeksplorasi diri mereka melalui interaksi dengan komunitas atau kelompok yang memiliki minat yang sama. Media sosial, dengan demikian, menawarkan ruang bagi remaja untuk mengembangkan dan memahami identitas mereka.

Melihat fakta mengenai kecanduan media sosial yang dialami oleh remaja, kita perlu menyadari fenomena ini memerlukan perhatian yang tepat. Perlunya pendidikan dan kontrol diri dalam menggunakan media sosial, serta dukungan dari orang tua. Kemudian lingkungan untuk mengurangi kecanduan menjadi langkah penting untuk memastikan remaja tetap sehat secara fisik, mental, dan sosial.

Baca juga: Strategi Mengatasi Rasa Sakit Akibat Kesepian

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Ini Penyebabnya Remaja Lebih Rentan Mengalami Kecanduan Media Sosial — DeepTalk